Menjemput Berkah di Hari Kemenangan: 10 Sunnah Idul Fitri Sesuai Tuntunan Rasulullah ﷺ
20 March 2026 | 23 Dilihat | Artikel Islami
SUBANG – Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum sakral bagi umat Muslim setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh. Untuk menyempurnakan kegembiraan di hari yang fitri ini, sangat dianjurkan bagi kita untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Berdasarkan intisari pendidikan Islam dan rujukan kitab-kitab hadits muktabar, berikut adalah 10 amalan sunnah yang dapat kita praktikkan untuk meraih pahala maksimal di hari raya:
1. Memulai Hari dengan Bangun Pagi
Mengawali hari kemenangan dengan bangun lebih awal merupakan langkah pertama untuk mempersiapkan rangkaian ibadah dengan khidmat. Bangun pagi memberikan waktu luang bagi seorang Muslim untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah dan bertakbir tanpa terburu-buru.
Dalil: Rasulullah ﷺ mendoakan keberkahan waktu pagi umatnya:
Arab: اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Artinya: "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka." (HR. Abu Dawud).
2. Mandi Sunnah Idul Fitri
Sangat dianjurkan untuk mandi besar sebelum berangkat menuju tempat sholat Id. Ibadah ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan sebagai simbol kesucian lahiriah.
Niat: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى (Nawaitul ghusla li ‘idil fithri sunnatan lillâhi ta’âlâ).
Dalil: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى ("Bahwasanya Nabi ﷺ mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha." – HR. Ibnu Majah).
3. Mengenakan Pakaian Terbaik dan Wewangian
Menghormati hari raya dengan tampil rapi, bersih, dan menggunakan pakaian terbaik yang dimiliki (tidak harus baru) adalah wujud syukur. Bagi laki-laki, disunnahkan pula memakai wewangian terbaik.
Dalil: "Rasulullah ﷺ memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang ada dan memakai wewangian terbaik yang kami miliki." (HR. Al-Hakim dalam Kitab Al-Mustadrak).
4. Makan Sebelum Berangkat Sholat Id
Berbeda dengan Idul Adha, pada Idul Fitri kita disunnahkan makan terlebih dahulu sebagai tanda bahwa hari tersebut diharamkan berpuasa. Rasulullah ﷺ biasa memakan kurma dalam jumlah ganjil.
Arab: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ... وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
Artinya: "Rasulullah ﷺ tidak berangkat pada hari Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma... dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil." (HR. Bukhari).
5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Sholat
Jika jarak rumah memungkinkan, berjalan kaki menuju masjid atau lapangan lebih utama daripada berkendara. Hal ini melambangkan kerendahan hati dan memberikan kesempatan lebih besar untuk berinteraksi dengan sesama.
Dalil: Dari Ali bin Abi Thalib: "Termasuk sunnah adalah keluar menuju sholat Id dengan berjalan kaki." (HR. At-Tirmidzi).
6. Mengumandangkan Takbir Sepanjang Perjalanan
Lantunan takbir adalah syiar kemenangan. Disunnahkan bertakbir sejak keluar rumah hingga imam memulai sholat Id.
Dalil: وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ("...dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu..." – QS. Al-Baqarah: 185).
7. Menunaikan Sholat Idul Fitri Berjamaah
Sholat Id dua rakaat secara berjamaah adalah inti dari hari raya. Ibadah ini merupakan Sunnah Muakkad yang memiliki keutamaan pengampunan dosa (Yaumul Jaizah) dan manifestasi persatuan umat.
8. Menyimak Khutbah dengan Khidmat
Setelah sholat selesai, jamaah dianjurkan tetap duduk untuk mendengarkan pesan-pesan takwa dari khatib dan mengaminkan doa bersama.
Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda: "Kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan khutbah maka duduklah..." (HR. Abu Dawud).
9. Bersilaturahmi dan Saling Mendoakan
Hari raya adalah momen terbaik untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah. Para sahabat Nabi biasa saling mendoakan dengan ucapan:
Arab: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Artinya: "Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian." (Referensi: Kitab Fathul Baari).
10. Pulang Melalui Rute yang Berbeda
Terakhir, disunnahkan mengubah jalur pulang agar dapat bertemu, menyapa, dan menebar salam kepada lebih banyak orang di rute yang berbeda.
Arab: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
Artinya: "Nabi ﷺ pada saat hari raya biasanya menempuh jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang)." (HR. Bukhari).